19 nop 2012
19 nop 2012

Pelajaran Hidup dari Penjual Mie Ayam



Saat itu hari libur, bertepatan dengan hari libur biasanya sanak saudara saya berkunjung ke rumah. Maklum, saya anak tertua, sehingga wajar saja jika adik dan anak-anaknya sering bermain ke rumah saya. Tujuannya jelas, menemani saya dan suami. Kebetulan, dua anak saya tidak berada di tanah air, mereka menimba ilmu di Belanda dan Amerika. Maka, beginilah hidup kami sehari-harinya, menanam tanaman dan memperjualbelikan. Ya, saya dan suami adalah pengusaha tanaman. Bisnis ini sudah berjalan sekitar delapan tahun dan Alhamdulillah berkembang pesat meski sesekali rugi tidak bisa dihindari.

Hari Minggu itu saya menawari adik dan keponakan untuk makan siang menu mi ayam yang kebetulan lewat di depan komplek. Mereka setuju, karena memang saya tahu kesukaan mereka. Berkali-kali saya membuatkan mereka mi ayam, tapi berhubung hari itu saya sedang kelelahan karena banyaknya pesanan tanaman, maka saya putuskan untuk membeli saja.

Tiba saat membayar, saya melihat penjual mi ayam tersebut tengah memisah-misahkan uang hasil dagangan ke dalam tempat yang berbeda-beda. Satu ke dalam dompet, laci, dan kaleng susu usang. Karena penasaran, saya pun memberanikan diri untuk bertanya. Namun, alangkah terkejutnya saya mendengar jawaban penjual mi ayam tersebut.

Sambil tersenyum, penjual tersebut menerangkan bahwa uang yang didapatnya dari berjualan mi ayam sengaja dipisahkan. Uang yang masuk dompet untuk keperluan sehari-hari, uang yang masuk laci untuk bersedekah dan menabung untuk berqurban saat idul adha, sedangkan uang yang masuk kaleng susu untuk membiayai dirinya yang ingin berhaji ke tanah suci.

Masyaallah, saya tersentuh saat itu juga. Betapa saya jarang beramal padahal materi yang saya miliki tentunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan penjual mi ayam yang semangkoknya dihargai lima ribu rupiah itu. Berulang kali saya mengucapkan terima kasih pada penjual. Terima kasih karena telah diajarkan bagaimana mengatur keuangan yang baik seperti yang diajarkan dalam agama.


Begitulah, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari pengalaman tersebut.



Sumber
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori serba serbi dengan judul Pelajaran Hidup dari Penjual Mie Ayam . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://m-aldy.blogspot.com/2012/07/pelajaran-hidup-dari-penjual-mie-ayam.html . Terima kasih!
Judul: Pelajaran Hidup dari Penjual Mie Ayam
Rating: 10 out of 10 based on 999999 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Farras Reizaldy

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda..
Ditulis oleh: Farras Reizaldy - Jumat, 06 Juli 2012

Belum ada komentar untuk " Pelajaran Hidup dari Penjual Mie Ayam "

Posting Komentar

My Ping in TotalPing.com